”Menjitak Kepala Pak Polisi”, itu bukan judul film, bukan judul lagu, bukan judul novel, bukan nama toko, bukan peribahasa. Tapi itu adalah cita-cita terbesar saya. Kurang lengkap rasanya hidup ini tanpa melakukan hal tersebut. Mungkin kalo menjitak rasanya seram juga ya?.. Baiklah.. kita beri sedikit toleransi. Bagaimana kalau “Melempari Kepala Pak Polisi”. Ini sedikit lebih mudah sebab bisa dilakukan dari jarak jauh dan sembunyi-sembunyi.
Tanya kenapa? Alasannya adalah, polisi adalah makhluk yang paling (maaf) menyebalkan yang pernah hidup di muka bumi ini. Maap buat yang berprofesi sebagai polisi atau mempunyai kerabat seorang polisi. Ada gejala yang lagi ngetrend di masyarakat, yaitu “Generalisasi Kejelekan”.
Ya.. orang suka men-generalisasikan kejelekan sesuatu, padahal belum tentu semua sesuatu itu jelek. Misalnya, kita membeli jeruk di pasar, ternyata jeruknya sudah lewat tanggal kadaluarsanya alias basi bin busuk. Kulitnya saja yang kencang, tapi isinya sudah keriput.
Apa reaksi kita?.. Kita akan mem-blacklist penjual jeruk tersebut dan menanamkan dalam hati sedalam-dalamnya “jangan beli jeruk lagi di situ! Jeruknya pada busuk”.
Padahal.. belum tentu semua jeruknya gitu kan?.. Lebih parah lagi kalo misalnya jeruk itu dijual di pasar dan di situ banyak penjual jeruk, maka orang cenderung akan menganggap bahwa semua jeruk di pasar itu tidak penting, maksud saya tidak oke!!..
Tidak hanya penjual jeruk, penjual kacang juga begitu, penjual jagung rebus, penjual batu bata, penjual ikan asin, sampai ke penjual pakaian dalam. Selain jualan atau barang, hal lain yang sering digeneralisasikan kejelekannya adalah profesi. Yaa polisi itu salah satunya. Kita ambil contoh lain selain polisi deh. Mmm.. misalnya penjual jeruk. (GUBRAK!!). Eh.. mm… misalnya apa ya?..
Misalnya mmm.. Dokter di sebuah rumah sakit. Mungkin suatu hari kita pernah berobat ke dokter dan ternyata hasilnya mengecewakan, dan akhirnya memutuskan untuk tidak kembali ke dokter tersebut, paling parah mungkin kita akan menganggap semua dokter di rumah sakit itu payah semua. Padahal, belum tentu begitu.
Contoh lain adalah dalam hal bepergian misalnya. Mau naik pesawat tapi airlines yang bersangkutan pesawatnya pernah (atau sering) kecelakaan, akhirnya kita menganggap semua pesawat di arilines itu tidak beres. Demikian juga dengan bis kota, kereta api, dll.
Saya pernah kecopetan di sebuah bis kota, dan setelah itu bis dengan nomer trayek yang sama saya anggap sebagai bis kriminal, kudu ekstra hati2 kalo naik bis itu lagi. Dan sampai sekarang, kalau memang tidak terdesak, saya tidak akan mau naik bis yang bernomor trayek (jurusan) yang sama.
Itulah generalisasi kejelekan. Sebenarnya menganggap semua orang suka meng-generalisasi kejelekan itu adalah sebuah bentuk generalisasi kejelekan juga.. hehe.
Bagaimana dengan kebaikan atau kelebihan sesuatu? Apakah ada juga generalisasinya? Ada, tapi sangat sedikit jumlahnya, susah dilakukan.
Tidak salah nenek moyang kita membuat salah satu mahakarya Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga.
Kembali ke polisi, polisi yang harusnya membantu masyarakat kok malah banyak yang menyusahkan masyarakat. Kalo masyarakat yang menyusahkan polisi itu wajar karena memang tugas polisi menstabilkan masyarakat. Tapi…. entahlah, tanya kenapa?
Generalisasi kejelekan polisi yang saya alami sudah pada stadium nasional, artinya semua polisi di seluruh pelosok negeri ini adalah target penjitakan saya.
Apakah anda juga mau membatu saya menjitak kepala polisi?.. Bagaimana?