Seusai magrib, di kantor.. iseng-iseng ke balkon eh teras belakang.. hirup udara malam yang segar sambil ngambil gambar suasana pada saat itu. Alhamudillah di daerah sini masih lumayan ada beberapa pohon-pohon yang mungkin sudah menjadi makhluk hidup yang hampir punah alias kalah bersaing dengan gedung-gedung tinggi di Jakarta.
Kemampuan tanaman sebagai penyaring udara sudah kalah jauh dengan teknologi yang bernama AC. Malah di beberapa tempat, fenomena alam yang bernama embun dan pelangi sudah hilang sama sekali. Coba ingat, kapan anda terakhir kali melihat pelangi. Syukurlah kalo anda masih bisa menikmatinya. Yang jelas saya mungkin salah satu orang yang kangen mau melihat lukisan fantastis tersebut. Kata buku, katanya pelangi biasanya muncul setelah hujan. Ah… teori… Itu cuma berlaku di daerah yang udaranya masih bersih.
Sewaktu kecil dulu, hampir tiap pagi saya melihat pelangi di sebelah timur dengan latar belakang siluet pegunungan. Kebetulan rumah saya menghadap persis ke timur, dan di depan rumah hanya ada lapangan rumput yang cukup luas. Lapangan rumput itu pula yang memperkenalkan saya kepada embun. Saya dulu sering bertanya-tanya, kenapa rumput ini selalu basah tiap pagi, padahal semalam tidak hujan.
Beberapa tahun kemudian, lapangan rumput itu sudah dikelilingi oleh pondasi batu, dan sebagian sudah ditutupi oleh tanah yang dipadatkan dan diratakan. Bahkan di salah satu sudutnya telah dimanfaatkan oleh warga sebagai tempat pembuangan sampah. (mengerikan)… Dan sekarang, lahan kosong itu pun “ditanami” dengan “tanaman raksasa” yang terbuat dari beton dan batu bata.
Tentang pelangi, saya malah bertanya2 sekarang, jangan-jangan anak sekolah jaman sekarang hanya mengenal pelangi dan embun lewat buku-buku pelajaran mereka. Yaaa paling canggih mungkin lewat VCD atau CD pelajaran. Atau, mungkin mereka sudah menganggap pelangi itu hanya ada di negeri dongeng. Para bidadari kan turun ke bumi lewat pelangi.
Atau, mungkin mereka mengira pelangi itu adalah lukisan seseorang yang bernama Agung?!? Sesuai dengan lirik di lagu Pelangi, “… Pelukismu Agung… siapa gerangan..”
Yaah..pelangi sudah cenderung hilang..digantikan dengan lampu-lampu di waktu malam. Sekilas memang tampak indah, tapi… tetep keindahan alami seperti pelangi punya kekuatan lain yang tidak hanya membuat hati merasa sejuk, tapi juga terharu dan takjub kepada Sang Pencipta.
Pelangi adalah Bhinneka Tunggal Ika yang sesungguhnya. Semua warna ada di sana, mereka selalu bersatu, selalu dalam barisan yang benar. Sebuah perbedaan yang membentuk sebuah keindahan. Tidak ada garis yang membatasi antara merah dan kuning, maupun hijau dan biru. Semuanya berbaur, menyatu, bergradasi dengan sangat lembut dan anggun.
